T

Tips Psikologi

TTS dan Catur Hindari Pikun, Hormon Cinta Bisa Picu Cemburu Juga, Studi: Uang Tak Bisa Beli Bahagia
08 February 2010

TTS dan Catur Hindari Pikun

http://www.jebret.com/public/contents/news/catur.jpgAktivitas sederhana seperti mengisi teka teki silang, main catur dan joging bisa membuat seseorang tetap sehat secara fisik dan mental lebih lama. Seiring pertambahan usia, fungsi kognitif sering terganggu atau lebih sering disebut pikun.
Untuk menghindari penurunan mental yang terjadi seiring dengan pertambahan usia maka aktivas yang menantang secara intelektual, mempertahankan pemikiran positif dan tetap memiliki kehidupan sosial merupakan hal yang bisa dilakukan.
Hal itu diungkapkan oleh para peneliti dalam sebuah studi skala besar terhadap penuaan dan otak.

Tinjauan terhadap penelitian yang dilakukan sepanjang tiga dekade dari 400 penelitian yang telah dilakukan menyimpulkan, mempertahanakan kondisi fisik, mental dan aktivitas sosial memiliki efek penting terhadap penurunan fungsi ingatan dan kognitif pada lanjut usia termasuk kemampuan untuk belajar dan menyelesaikan permasalahan. "Bagaiaman orang menghabiskan waktu mereka sangat berdampak dari sisi penuaan secara kognitif," ujar salah seorang peneliti dari Rush University Medical Center, Robert S. Wilson.

Dia menuturkan, hasil penelitian menyarankan orang untuk tetap memiliki aktivitas intelektual, sosial dan berolah fisik serta melepaskan diri dari emosi negatif seperti depresi dan ketegangan yang berdampak pada penurunan fungsi kognitif selama proses penuaan.

Sekitar 100 tahun yang lalu, hanya sekitar 4 persen dari warga Amerika Serikat yang berusia lebih dari 65 tahun. Kemudian tahun 2000, meningkat menjadi 12 persen dan diperkirakan tahun 2030 akan mencapai 20 persen orang berusia lebih dari 65 tahun.
Wilson mengatakan, seiring dengan angka peningkatan orang usia lanjut, angka penderita penyakit Alzheimer juga meningkat. Diperkirakan empat kali lipat dalam 40 tahun mendatang. "Akan timbul hambatan yang sangat besar dari orang lanjut usia jika mereka tidak mampu secara kognitif. Jika saja kita bisa membangun strategi untuk menghambat hal semacam itu sekitar enam bulan, satu atau dua tahun maka kita akan mengurangi penderitaan dan biaya yang harus dikeluarkan," jelas Wilson.
Penelitian itu juga mengidentifikasi beberapa aspek dari gaya hidup seseorang yang dapat berdampak pada fungsi mental seperti berolahraga,memiliki kehidupan sosoal, aktivitas yang meliabtkan mental optimis, sikap meraih tujuan dan pribadi yang menyenangkan.

Meskipun olahraga memiliki dampak terhadap fungsi mental, jenis dari olahraga yang dilakukan juga bisa berpengaruh.

Dalam sebuah penelitian yang meminta orang lanjut untuk berlatih fisik yang biasa mereka lakukan, dilaporkan memiliki kemampuan paling tinggi dan mempunyai fungsi mental yang lebih baik dibandingkan mereka yang lebih banyak bersantai. Meskipun perbedaannya tidak terlalu dramatissi.

Para partisipan yang ikut ambil bagian dalam penelitian ini juga diminta untuk berlatih program aerobik untuk melihat dampaknya terhadap fungsi mental. "Semua jenis olahraga sangat baik, tapi sebenarnya menjalankan program aerobik teratur lebih baik," terang Wilson.

Berjalan merupakan latihan yang paling mudah dilakukan sebagai jenis olahraga aerobik. Namun langkahnya harus diatur sedemikian rupa hingga dapat meningkatkan detak jantung.
Kemudian untuk kegitan yang bisa menstimulasi secara intelektual sebenarnya bisa dilakukan dengan mudah. Menurut Ahli Geriatri dari Montefiore Medical Center, Dr Gary Kennedy mengatakan, mengerjakan teka-teki silang, bermain catur atau belajar bahasa bisa bermanfaat.

Penelitian menunjukkan, melakukan aktivitas yang baru, menantang dan diminati dapat berfungsi mempertahankan kesehatan mental. "Nyatanya seiring dengan penambahan usia, proses kognitif akan semakin lambat. Hal itu membuat Anda harus menghabiskan waktu dan berlatih lebih lama untuk menguasai sesuatu yang baru. Saya harap Anda dapat tetap sehat untuk melakukan hal itu," tutur Kennedy.

sumber: http://www.republika.co.id/berita/58468/tts-dan-catur-hindari-pikun

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Hormon Cinta Bisa Picu Cemburu Juga

http://www.jebret.com/public/contents/news/hubungan.jpgOksitosin biasanya dijuluki sebagai hormon cinta yang seringkali dihubungkan dengan rasa percaya, empati dan kemurahan hati. Namun, studi terbaru juga mengatakan oksitosin juga berpengaruh terhadap rasa cemburu dan sombong.

"Lanjutan dari penemuan itu, kami berasumsi bahwa hormon secara keseluruhan memicu sentimen sosial. Ketika pemikiran seseorang positif, maka akan mendorong perilaku sosial yang positif, namun ketika asosiasi seseorang negatif maka hormon akan mendukung peningkatan sentimen negatif," ujar peneliti dari University of Haifa, Simone Shamay-Tsoory dalam sebuah rilis.

Para peneliti menghubungkan antara hormon merasa senang yang biasa dikeluarkan ketika persalinan atau ketika orang berhubungan intim. Mereka menemukan, orang yang menghirup hormon oksitosin buatan akan memiliki sikap mementingkan orang lain (altruistic).

Namun, pada penelitian sebelumnya, Shamat-Tsoory mengungkap, tikus yang menghirup oksitosin lebih agresif sehingga ia memutuskan untuk mengetahui lebih jauh apakah hormon tersebut berdampak sama pada manusia.

Untuk penelitian terbaru itu, para peneliti melibatkan 56 partisipan yang diminta menghirup hormon oksitosin tiruan dan placebo. Kemudian para partisipan diminta untuk melakukan permainan yang didesain khusus untuk menunjukkan perasaan cemburu dan sombong.
Bagi para partisipan yang menghirup oksitosin dilaporkan, memiliki tingkat kecemburuan dan kesommbongan yang lebih tinggi dibanding partisipan lain. Namun, hal itu tidak berlangsung setelahnya. Penemuan itu bisa jadi mengandung pesan penting.

"Menindaklanjuti hasil penelitian terdahulu dari penelitian dengan oksitosin, kami mulai meneliti kemungkinan penggunaan hormon sebagai pengobatan untuk berbagai penyakit seperti autisme," ujar Shamay-Tsoory.

Namun, berdasarkan pada hasil studi terbaru, dia mengatakan, efek yang tidak diinginkan dari hormon tersebut harus dipelajari lebih lanjut sebelum benar-benar menggunakannya sebagai pengobatan.

sumber: http://www.republika.co.id/berita/89685/hormon-cinta-bisa-picu-cemburu-juga

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Studi: Uang Tak Bisa Beli Bahagia

http://www.jebret.com/public/contents/news/pig%20money.jpgMemiliki uang banyak, penampilan menarik serta ketenaran sekilas tampak sebagai jalan menuju kebahagiaan. Ternyata kenyatannya tidak demikian, menurut sebuah studi.

Para peneliti dari University of Rochester di New York mengikuti 147 lulusan universitas sebagai responden, yang dievaluasi mengenari tujuan serta kebahagian mereka. Penelitian dilakukan satu tahun setelah kelulusan dan 12 bulan setelah itu.

"Hasil yang dicapai yang bersifat ekstrinsik atau "American Dream", tidak berkontribusi terhadap kebahagiaan sama sekali pada kelompok itu, namun sedikit berpengaruh terhadap kondisi kesehatan," ujar pemimpin penelitian sekaligus Profesor Psikologi, Edward Deci.

Bagi partisipan yang berhasil memperoleh harta kekayaan dan ketenaran, justru lebih sedikit merasa bahagia dibandingkan mereka yang mengalami kemajuan pada tujuan intrinsik dari dalam diri seperti perkembangan kemampuan pribadi.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Edward menuturkan, beberapa partisipan mengatakan proses untuk memperoleh harta, popularitas dan imej membuat mereka merasa bagaikan boneka dalam kehidupan.

"Para partisipan yang memfokuskan diri pada hasil intrinsik seperti perkembangan diri, menjaga hubungan dan membantu masyarakat secara sosial justru mengalami kepuasan hidup secara substansial, mapan dan bahagia," tutur Edward.

Hasil penelitian yang dilakukan itu, mendukung teori Edward mengenai perkembangan motivasi manusia yang dikembangkan bersama rekannya, Richard Ryan. Teori tersebut mengataan, manusia sangat tergantung terhadap pemenuhan kebutuhan dasar untuk otonomi, kompetensi dan hubungan.
Hasil tersebut, lanjut Edward, berhasil menguatkan penelitian sebelumnya yang mengungkap jika seseorang berkomitmen terhadap tujuannya kemungkinan besar akan sukses. Namun, penelitian terbaru kali ini menemukan, pencapaian terhadap tujuan tidak selalu membawa kebahagiaan dan kemakmuran.

Sebaliknya, para peneliti menemukan, pencapaian hasil yang bersifat materi seperti gaji tertentu dapat berdampak buruk pada kesehatan. Sementara, partisipan yang lebih menjunjung tujuan seperti hubungan yang intensif, perkembangan diri dan partisipasi masyarakat lebih banyak memiliki perasaan positif dan merasakan kebahagiaan.

Dibalik rasa puas yang dirasakan oleh partisipan yang lebih mengejar tujuan intrinsik, jelas Edward, karena mereka berhasil memenuhi tiga kebutuhan dasar terhadap otonomi, kompetensi dan berhubungan baik dengan orang lain.

"Tujuan hidup layaknya Impian Amerika, justru akan membuat seseorang merasakan kepuasaan yang lebih sedikit, tak berguna pada dunia serta memicu timbulnya penyakit," paparnya.

Hasil penelitian tersebut tidak mengejutkan bagi Profesor Psikologi di University of California, Sonja Lyubomirsky yang telah menulis buku berjudul "The How of Happiness".

"Kesimpulan penelitian itu mendukung dan memperluas hasil sebelumnya yang menunjukkan pengejaran dan tujuaan dari tujuan intrinsik dapat diasosiasikan dengan kemakmuran," tuturnya.

Bagi para mahasiswa yang baru lulus, Edward kemudian memberi saran, jika mereka ingin tetap mengejar impian materi ala Amerika maka sebaiknya imbangi dengan sesuatu yang lebih dalam dan penting bagi kebutuhan manusia. Seperti hubungan yang dilandasi kasih sayang, perkembangan pribadi dan kontribusi terhadap masyarakat.

sumber: http://www.republika.co.id/berita/52467/studi-uang-tak-bisa-beli-bahagia

NEW VOUCHER
POLLING
Lulus sekolah bakal ngelanjutin kemana?
Kuliah
Kursus
Buka Usaha
Bantu Orang tua Dagang
Nganggur dulu
SHARE NETWORK