Tips Psikologi
TTS dan Catur Hindari Pikun, Hormon Cinta Bisa Picu Cemburu Juga, Studi: Uang Tak Bisa Beli Bahagia
TTS dan Catur Hindari Pikun
Aktivitas
sederhana seperti mengisi teka teki silang, main catur dan joging bisa membuat
seseorang tetap sehat secara fisik dan mental lebih lama. Seiring pertambahan
usia, fungsi kognitif sering terganggu atau lebih sering disebut pikun.
Untuk menghindari penurunan mental yang terjadi seiring dengan pertambahan usia
maka aktivas yang menantang secara intelektual, mempertahankan pemikiran positif
dan tetap memiliki kehidupan sosial merupakan hal yang bisa dilakukan.
Hal itu diungkapkan oleh para peneliti dalam sebuah studi skala besar terhadap
penuaan dan otak.
Tinjauan terhadap penelitian yang dilakukan sepanjang tiga dekade dari 400
penelitian yang telah dilakukan menyimpulkan, mempertahanakan kondisi fisik,
mental dan aktivitas sosial memiliki efek penting terhadap penurunan fungsi
ingatan dan kognitif pada lanjut usia termasuk kemampuan untuk belajar dan
menyelesaikan permasalahan. "Bagaiaman orang menghabiskan waktu mereka sangat
berdampak dari sisi penuaan secara kognitif," ujar salah seorang peneliti dari
Rush University Medical Center, Robert S. Wilson.
Dia menuturkan, hasil penelitian menyarankan orang untuk tetap memiliki
aktivitas intelektual, sosial dan berolah fisik serta melepaskan diri dari emosi
negatif seperti depresi dan ketegangan yang berdampak pada penurunan fungsi
kognitif selama proses penuaan.
Sekitar 100 tahun yang lalu, hanya sekitar 4 persen dari warga Amerika Serikat
yang berusia lebih dari 65 tahun. Kemudian tahun 2000, meningkat menjadi 12
persen dan diperkirakan tahun 2030 akan mencapai 20 persen orang berusia lebih
dari 65 tahun.
Wilson mengatakan, seiring dengan angka peningkatan orang usia lanjut, angka
penderita penyakit Alzheimer juga meningkat. Diperkirakan empat kali lipat dalam
40 tahun mendatang. "Akan timbul hambatan yang sangat besar dari orang lanjut
usia jika mereka tidak mampu secara kognitif. Jika saja kita bisa membangun
strategi untuk menghambat hal semacam itu sekitar enam bulan, satu atau dua
tahun maka kita akan mengurangi penderitaan dan biaya yang harus dikeluarkan,"
jelas Wilson.
Penelitian itu juga mengidentifikasi beberapa aspek dari gaya hidup seseorang
yang dapat berdampak pada fungsi mental seperti berolahraga,memiliki kehidupan
sosoal, aktivitas yang meliabtkan mental optimis, sikap meraih tujuan dan
pribadi yang menyenangkan.
Meskipun olahraga memiliki dampak terhadap fungsi mental, jenis dari olahraga
yang dilakukan juga bisa berpengaruh.
Dalam sebuah penelitian yang meminta orang lanjut untuk berlatih fisik yang
biasa mereka lakukan, dilaporkan memiliki kemampuan paling tinggi dan mempunyai
fungsi mental yang lebih baik dibandingkan mereka yang lebih banyak bersantai.
Meskipun perbedaannya tidak terlalu dramatissi.
Para partisipan yang ikut ambil bagian dalam penelitian ini juga diminta untuk
berlatih program aerobik untuk melihat dampaknya terhadap fungsi mental. "Semua
jenis olahraga sangat baik, tapi sebenarnya menjalankan program aerobik teratur
lebih baik," terang Wilson.
Berjalan merupakan latihan yang paling mudah dilakukan sebagai jenis olahraga
aerobik. Namun langkahnya harus diatur sedemikian rupa hingga dapat meningkatkan
detak jantung.
Kemudian untuk kegitan yang bisa menstimulasi secara intelektual sebenarnya bisa
dilakukan dengan mudah. Menurut Ahli Geriatri dari Montefiore Medical Center, Dr
Gary Kennedy mengatakan, mengerjakan teka-teki silang, bermain catur atau
belajar bahasa bisa bermanfaat.
Penelitian menunjukkan, melakukan aktivitas yang baru, menantang dan diminati
dapat berfungsi mempertahankan kesehatan mental. "Nyatanya seiring dengan
penambahan usia, proses kognitif akan semakin lambat. Hal itu membuat Anda harus
menghabiskan waktu dan berlatih lebih lama untuk menguasai sesuatu yang baru.
Saya harap Anda dapat tetap sehat untuk melakukan hal itu," tutur Kennedy.
sumber: http://www.republika.co.id/berita/58468/tts-dan-catur-hindari-pikun
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Hormon Cinta Bisa Picu Cemburu Juga
Oksitosin
biasanya dijuluki sebagai hormon cinta yang seringkali dihubungkan dengan rasa
percaya, empati dan kemurahan hati. Namun, studi terbaru juga mengatakan
oksitosin juga berpengaruh terhadap rasa cemburu dan sombong.
"Lanjutan dari penemuan itu, kami berasumsi bahwa hormon secara keseluruhan
memicu sentimen sosial. Ketika pemikiran seseorang positif, maka akan mendorong
perilaku sosial yang positif, namun ketika asosiasi seseorang negatif maka
hormon akan mendukung peningkatan sentimen negatif," ujar peneliti dari
University of Haifa, Simone Shamay-Tsoory dalam sebuah rilis.
Para peneliti menghubungkan antara hormon merasa senang yang biasa dikeluarkan
ketika persalinan atau ketika orang berhubungan intim. Mereka menemukan, orang
yang menghirup hormon oksitosin buatan akan memiliki sikap mementingkan orang
lain (altruistic).
Namun, pada penelitian sebelumnya, Shamat-Tsoory mengungkap, tikus yang
menghirup oksitosin lebih agresif sehingga ia memutuskan untuk mengetahui lebih
jauh apakah hormon tersebut berdampak sama pada manusia.
Untuk penelitian terbaru itu, para peneliti melibatkan 56 partisipan yang
diminta menghirup hormon oksitosin tiruan dan placebo. Kemudian para partisipan
diminta untuk melakukan permainan yang didesain khusus untuk menunjukkan
perasaan cemburu dan sombong.
Bagi para partisipan yang menghirup oksitosin dilaporkan, memiliki tingkat
kecemburuan dan kesommbongan yang lebih tinggi dibanding partisipan lain. Namun,
hal itu tidak berlangsung setelahnya. Penemuan itu bisa jadi mengandung pesan
penting.
"Menindaklanjuti hasil penelitian terdahulu dari penelitian dengan oksitosin,
kami mulai meneliti kemungkinan penggunaan hormon sebagai pengobatan untuk
berbagai penyakit seperti autisme," ujar Shamay-Tsoory.
Namun, berdasarkan pada hasil studi terbaru, dia mengatakan, efek yang tidak
diinginkan dari hormon tersebut harus dipelajari lebih lanjut sebelum
benar-benar menggunakannya sebagai pengobatan.
sumber: http://www.republika.co.id/berita/89685/hormon-cinta-bisa-picu-cemburu-juga
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Studi: Uang Tak Bisa Beli Bahagia
Memiliki
uang banyak, penampilan menarik serta ketenaran sekilas tampak sebagai jalan
menuju kebahagiaan. Ternyata kenyatannya tidak demikian, menurut sebuah studi.
Para peneliti dari University of Rochester di New York mengikuti 147 lulusan
universitas sebagai responden, yang dievaluasi mengenari tujuan serta kebahagian
mereka. Penelitian dilakukan satu tahun setelah kelulusan dan 12 bulan setelah
itu.
"Hasil yang dicapai yang bersifat ekstrinsik atau "American Dream", tidak
berkontribusi terhadap kebahagiaan sama sekali pada kelompok itu, namun sedikit
berpengaruh terhadap kondisi kesehatan," ujar pemimpin penelitian sekaligus
Profesor Psikologi, Edward Deci.
Bagi partisipan yang berhasil memperoleh harta kekayaan dan ketenaran, justru
lebih sedikit merasa bahagia dibandingkan mereka yang mengalami kemajuan pada
tujuan intrinsik dari dalam diri seperti perkembangan kemampuan pribadi.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Edward menuturkan, beberapa partisipan mengatakan
proses untuk memperoleh harta, popularitas dan imej membuat mereka merasa
bagaikan boneka dalam kehidupan.
"Para partisipan yang memfokuskan diri pada hasil intrinsik seperti perkembangan
diri, menjaga hubungan dan membantu masyarakat secara sosial justru mengalami
kepuasan hidup secara substansial, mapan dan bahagia," tutur Edward.
Hasil penelitian yang dilakukan itu, mendukung teori Edward mengenai
perkembangan motivasi manusia yang dikembangkan bersama rekannya, Richard Ryan.
Teori tersebut mengataan, manusia sangat tergantung terhadap pemenuhan kebutuhan
dasar untuk otonomi, kompetensi dan hubungan.
Hasil tersebut, lanjut Edward, berhasil menguatkan penelitian sebelumnya yang
mengungkap jika seseorang berkomitmen terhadap tujuannya kemungkinan besar akan
sukses. Namun, penelitian terbaru kali ini menemukan, pencapaian terhadap tujuan
tidak selalu membawa kebahagiaan dan kemakmuran.
Sebaliknya, para peneliti menemukan, pencapaian hasil yang bersifat materi
seperti gaji tertentu dapat berdampak buruk pada kesehatan. Sementara,
partisipan yang lebih menjunjung tujuan seperti hubungan yang intensif,
perkembangan diri dan partisipasi masyarakat lebih banyak memiliki perasaan
positif dan merasakan kebahagiaan.
Dibalik rasa puas yang dirasakan oleh partisipan yang lebih mengejar tujuan
intrinsik, jelas Edward, karena mereka berhasil memenuhi tiga kebutuhan dasar
terhadap otonomi, kompetensi dan berhubungan baik dengan orang lain.
"Tujuan hidup layaknya Impian Amerika, justru akan membuat seseorang merasakan
kepuasaan yang lebih sedikit, tak berguna pada dunia serta memicu timbulnya
penyakit," paparnya.
Hasil penelitian tersebut tidak mengejutkan bagi Profesor Psikologi di
University of California, Sonja Lyubomirsky yang telah menulis buku berjudul
"The How of Happiness".
"Kesimpulan penelitian itu mendukung dan memperluas hasil sebelumnya yang
menunjukkan pengejaran dan tujuaan dari tujuan intrinsik dapat diasosiasikan
dengan kemakmuran," tuturnya.
Bagi para mahasiswa yang baru lulus, Edward kemudian memberi saran, jika mereka
ingin tetap mengejar impian materi ala Amerika maka sebaiknya imbangi dengan
sesuatu yang lebih dalam dan penting bagi kebutuhan manusia. Seperti hubungan
yang dilandasi kasih sayang, perkembangan pribadi dan kontribusi terhadap
masyarakat.
sumber: http://www.republika.co.id/berita/52467/studi-uang-tak-bisa-beli-bahagia
















