Guru
Guru, Jadilah Pembelajar Seumur Hidupmu, Hubungan Sekolah dan Lembaga Pendidikan Guru
Guru, Jadilah Pembelajar Seumur Hidupmu
Kualitas pembelajaran yang luar biasa di sekolah harus berbanding lurus dengan kualitas pembelajaran yang diperoleh guru itu sendiri sebagai pendidik di sekolah.
Demikian dikatakan oleh dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP)
Kebangkitan Nasional atau Sampoerna School of Education (SSE) Iwan Syahril dalam
seminar bertema Building Common Understanding Between Teacher Education
Institutions and School Communities on Teacher's Quality di Kampus SSE, Jakarta,
Kamis (4/3/2010).
Untuk itu, lanjut Iwan, harus ditanamkan bahwa tidak akan cukup jika guru hanya
terfokus pada knowledge for practise (pengetahuan secara teori), tetapi juga
knowledge in practise (pengetahuan secara praktik), sehingga akhirnya guru
memiliki knowledge of practise (gabungan pengetahuan teori dan praktik).
"Untuk memeroleh SDM guru yang berkualitas, ketiganya harus dijadikan siklus
yang berlangsung secara aktif," ucap Iwan.
Seperti halnya pengetahuan, kata Iwan, dunia pendidikan bagi guru juga terus
berkembang secara dinamis. Guru pun semakin dituntut untuk selalu adaptif
terhadap semua perubahan yang terjadi tersebut, yang pada akhirnya, berkat
kemajuan pengetahuan dan teknologi, posisi guru tak lagi hanya sebagai sentral
pengetahuan.
"Sehingga guru harus menjadi pembelajar yang aktif, pembelajar seumur hidup,"
tambah Iwan.[kompas]
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Belum Harmonis, Hubungan Sekolah dan Lembaga Pendidikan Guru
Sampai sejauh ini belum terjadi hubungan yang harmonis dan menjadi sinergi yang nyata antara Lembaga Pendidikan Tenaga Guru (LPTK) dan sekolah-sekolah. Keduanya masih berjalan sendiri-sendiri, padahal sekolah merupakan tempat yang paling baik untuk membina calon guru yang dididik di LPTK.
Demikian dikatakan Ketua Sampoerna School of Education (SSE) Paulina Pannen
dalam sambutan penandatanganan Nota Kesepahaman Program Pengalaman Mengajar
(Professional Experience Sequence) di Sekolah-sekolah antara SSE dan Dinas
Pendidikan DKI Jakarta di Kampus SSE, Kamis (4/3/2010).
"Di tempat lain praktik di sekolah itu di nomor sekian, di sini para mahasiswa
calon guru justru sudah harus praktik langsung sejak semester pertama. Kami
memang ingin membiasakan calon guru dapat bereksplorasi bersama para guru
sekolah untuk memecahkan masalah atau mencari ide-ide baru," ujar Paulina.
Menurutnya, seorang mahasiswa calon guru sudah harus bisa mempraktikkan
proses-proses mengenal sekolah sejak awal kuliahnya. Mahasiswa harus berada di
sekolah meski sekadar untuk membantu guru merekap nilai atau ditanya ini-itu
oleh murid-murid. Sebab, lanjut Paulina, di situlah seorang calon guru mulai
dapat mengenal dinamika di dalam kelas, baik itu sekolah umum maupun madrasah,
baik sekolah negeri maupun swasta, bahkan di sekolah internasional.
"Satu sekolah maksimum hanya 10 mahasiswa, sementara kami punya 89 mahasiswa.
Saat ini baru 8 sekolah di DKI yang telah bermitra, baik untuk tingkat SD sampai
SMA," tambah Paulina.[kompas]
















