P

Pengaruh Pornografi

Alasan dan Pengaruh Pornografi, Hati-hati, Kecanduan Pornografi, Kecanduan Pornografi, Apa Tandanya?, Lepas dari Jerat Pornografi Internet
09 March 2010

Alasan dan Pengaruh Pornografi

Anda pendukung atau penentang RUU Antipornografi? Simak pendapat pakar seksologi nomor satu di Indonesia ini tentang pornografi.

”Ada alasan tertentu mengapa orang senang terhadap pornografi,” ujar Prof Dr Wimpie Pangkahila, Sp.And.

Pertama, mendapat tambahan informasi tentang perilaku seksual walaupun tidak selalu benar secara ilmiah. Kedua, pornografi memberikan kesempatan untuk melatih secara imajinasi tentang sesuatu yang ingin diketahui. Ketiga, mendapatkan sesuatu yang bersifat rekreasi.

Pada masa lalu, orang berpendapat bahwa pria lebih kuat mengalami reaksi seksual terhadap rangsangan audiovisual daripada perempuan. Ternyata pendapat ini salah.
Menurut Prof Wimpie, pria dan perempuan sama dalam mengalami reaksi seksual terhadap bahan yang bersifat erotis. Karena itu, bagi orang dewasa yang mengalami gangguan fungsi seksual tertentu, pornografi yang dirancang khusus diakui mempunyai manfaat.

Rangsangan seksual yang diberikan oleh pornografi dapat menimbulkan reaksi seksual, baik pada pria maupun perempuan. Reaksi seksual yang muncul dapat bersifat fisik atau psikis.

Meski begitu, reaksi seksual yang muncul tidak sama kepada setiap orang. Bahkan, bagi sebagian orang, pornografi yang disaksikan justru menimbulkan reaksi yang tidak menyenangkan.

Kenyataan ini sekali lagi menunjukkan bahwa tidak ada pegangan yang pasti dan obyektif untuk menentukan apakah suatu bahan tergolong pornografi atau tidak, dalam kaitan dengan munculnya reaksi seksual dan perilaku seksual.

Perilaku seksual
Perilaku seksual manusia, baik pria maupun perempuan, menurut Prof Wimpie, dipengaruhi oleh 5 faktor. Pertama, dorongan seksual. Kedua, pengalaman seksual sebelumnya. Ketiga, pengetahuan seksual. Keempat, nilai sosial budaya. Kelima, lingkungan.

”Perilaku seksual sebenarnya merupakan ekspresi dorongan seksual, yang lebih khusus dinyatakan dalam bentuk aktivitas seksual, termasuk hubungan seksual,” ujar guru besar Kedokteran Universitas Udayana, Bali, ini.

Dorongan seksual sendiri, menurut dia, dipengaruhi oleh 5 faktor. Pertama, hormon seks. Kedua, keadaan kesehatan tubuh. Ketiga, faktor psikis. Keempat, pengalaman seksual sebelumnya. Kelima, rangsangan seksual dari luar.

Rangsangan seksual dari luar dapat berupa rangsangan yang bersifat fisik ataupun psikis. Rangsangan fisik, misalnya, ciuman dan rabaan, sedangkan rangsangan psikis, antara lain, khayalan dan pornografi.

”Rangsangan seksual ini dapat atau tidak dapat menimbulkan reaksi seksual bagi yang menerimanya. Reaksi yang muncul sangat bergantung pada jenis dan intensitas rangsangan seksual bagi yang menerima,” katanya.

Karena itu, sebagian orang mengalami reaksi seksual yang cukup ketika menerima suatu rangsangan. Sebagian lain tidak mengalami reaksi seksual yang cukup dan sebagian yang lain lagi justru bereaksi negatif terhadap rangsangan seksual yang diterima.

Namun, bukan berarti setiap orang yang mengalami reaksi seksual harus selalu mengekspresikannya dalam bentuk aktivitas seksual. Faktor lain, seperti disebut di atas, ikut berpengaruh sehingga munculnya dorongan seksual tidak harus selalu diekspresikan dalam bentuk aktivitas seksual, termasuk hubungan seksual.
Itulah pula yang membedakan manusia dengan binatang, bukan?

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Hati-hati, Kecanduan Pornografi

Saat ini diperkirakan lebih dari 420 juta orang dewasa secara rutin mengakses situs porno. Pesatnya perkembangan teknologi, khususnya internet, memang membuat pornografi bisa diakses dengan mudah dan murah tanpa terkesan jorok. Sayangnya, situs khusus orang dewasa itu juga ikut diakses oleh anak-anak.

Pada 2004, dewan ahli di Amerika Serikat pernah menyampaikan kepada Senat mengenai bahaya candu dari produk bernama pornografi terhadap fungsi otak. Pengaruh pornografi pada otak disebut dengan toxic atau racun. Kecanduan pornografi sama prosesnya dengan kokain dan zat adiktif lainnya.  

Kecanduan tersebut juga merusak fungsi dan struktur otak dengan pola yang sama dengan gejala-gejala adiksi fisiologis karena obat-obatan dan alkohol.

Seorang ahli jiwa bahkan mengatakan, paparan pornografi secara terus-menerus akan menyebabkan perubahan konstan pada neurotransmiter dan melemahkan fungsi kontrol. Seseorang yang kecanduan pornografi bakal tak bisa mengontrol perilaku seksnya dan mengalami gangguan memori.

Menurut Mary Anne Layden, PhD, psikolog dari Universitas Pennsylvania, seperti halnya pecandu narkoba atau alkohol yang butuh dosis lebih besar agar bisa "melayang", para pecandu pornografi pun punya kebutuhan untuk melihat materi porno yang lebih ekstrem untuk mencapai level kepuasan tertentu, misalnya saja adegan seks dengan anak kecil atau binatang.

Namun, berbeda dengan kecanduan narkoba atau alkohol, kecanduan pornografi tidak hanya memengaruhi fungsi otak, tapi juga merangsang tubuh, fisik, dan emosi diikuti perilaku seksual.

Menurut  Louanne Cole Weston PhD, terapis seks, ada tiga alasan utama yang menyebabkan seseorang mengakses hal-hal berbau porno, yakni ingin fantasi mereka jadi kenyataan, menghindari keintiman dalam hubungan, dan sarana masturbasi.

"Kadang mereka hanya ingin melihat hal-hal yang selama ini cuma bisa dibayangkan, misalnya karena pasangannya tak mau melakukan seks oral saat berhubungan sehingga mereka mencari video atau gambar orang yang melakukan seks oral," kata Weston.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Kecanduan Pornografi, Apa Tandanya?

wanita atau pria tak sadar bila pasangan mereka menyukai pornografi, atau bahkan tak sedikit yang terjerat hubungan serius dengan wabah satu ini. Sikap masa bodoh biasanya akan membuat mereka mempercayai pasangannya tanpa syarat.  Mereka berasumsi bahwa kebiasaan mengakses pornografi dapat dimaklumi dan dipahami sebagai hal yang lumrah.

Menurut Yvonne K. Fulbright, seorang konsultan seks, kolumnis dan pendiri  Sexuality Source Inc, ketidakpedulian Anda bila dikombinasikan dengan makin lamanya antusiasme pasangan Anda terhadap pornografi justru akan menimbulkan masalah. Hal ini akan menyebabkan perasaan erotis yang terpendam dan pada akhirnya akan membuat pasangan Anda terjebak di sisi yang gelap.

Sementara itu, di lain pihak ada pasangan yang justru pernah menggunakan beragam bentuk erotisme untuk meningkatkan kualitas hubungan seks. Dengan kata lain, pornografi juga sering direkomendasikan sebagai salah satu cara membuat hubungan menjadi lebih intim.

Akan tetapi, alih-alih bermanfaat memperbaiki hubungan, pornografi justru menjadi jauh dari fungsinya sebagai stimulan. Kecenderungannya, pornografi justru akan merenggut kehidupan seseorang. Bukannya menjadi stimulan, pornografi justru menjadi obyek dari hasrat atau gairah.Alhasil seseorang  justru harus bersaing dengan pornografi untuk mendapatkan perhatian dari pasangannya.

Nah, sebelum terjebak lebih dalam, ada baiknya Anda memahami dan mengenali tanda-tanda pasangan atau kekasih kecanduan pornografi.  Berikut penjelasan dari Fulbright, ahli yang  juga menulis sejumlah buku terkenal seperti "Touch Me There! A Hands-On Guide to Your Orgasmic Hot Spots."

1. Pasangan Anda tidak bersosialisasi seperti biasanya. Si Dia banyak menghindar dari aktivitas, absen dengan alasan tak jelas,  dan tidak mampu mengatur waktu untuk dirinya sendiri. Ia menjadi kurang antusias dalam bersosialisasi atau meluangkan waktu untuk orang lain termasuk keluarganya sendiri.

2. Pasangan Anda kurang bergairah dalam seks atau tak merespon rangsangan seks.  Anda akan menemukan penurunan dalam hal perasaan secara fisik dan sentuhan non-seksual.  Jika Anda melakukan seks dengannya, itu karena Anda yang berinisiatif.  Pasangan Anda mengalami kesulitan untuk menemukan dorongan atau hasrat seksual (contohnya, mencapai ereksi atau orgasme).

Selain itu, pasangan Anda juga biasanya butuh lebih banyak stimulasi untuk benar-benar terangsang dan kemudian klimaks. Biasanya, Anda dan pasangan kemudian mengalami ketidakpuasan dalam aktivitas seks.

3. Pasangan Anda mengajukan permintaan aneh atau kasar saat ngeseks. Anda akan merasa tertekan untuk melakukan aktiivitas seksual yangs secara fisik dan emosional sungguh tidak nyaman bagi Anda.  Si Dia menerapkan bahasa seksual yang tidak biasa.  Si Dia seperti mengobyektifikasi Anda,  tetapi ia tampak tidak merasa terganggu.

4. Pasangan Anda seperti tidak “hadir”. Kekasih Anda menjadi seperti jauh secara emosional saat melakukan  seks. Anda mulai merasa ditolak  atau terabaikan secara seksual  Di dalam atau diluar kamar tidur, Anda dan pasangan tidak bisa lagi menggambarkan keintiman secara emosional.

5. Pasangan Anda mulai mengeluhkan penampilan Anda. Pasangan Anda menjadi terlalu cemas dengan penampilan Anda dan menilai apakah Anda cukup menarik dari sisi seksual.  Si Dia mungkin akan memberi komentar mengenai berat badan atau bentuk tubuh Anda.  Ia juga membuat komentar-komentar seks yang tidak sensitif namun seakan menganggap Anda menjadi obyek seksual.

6. Anda merasa tidak lagi mendapat jawaban langsung dari  pasangan Anda. Anda mulai curiga bahwa apa sering yang dikatakannya akhir-akhir ini adalah sebuah kebohongan.  Jawaban yang diberikan si Dia juga tereksan samar dan mengada-ada. Si Dia juga menjadi tereksan defensif ketika ditanya soal tujuan melihat gambar porno.

Tak lama lagi Anda akan menemukan bukti-bukti si Dia menyembunyikan sesuatu, kebohongan, dan perilaku misterius, termasuk materi-materi porno yang Anda tidak tahu.  Bisa  jadi pasangan Anda juga menyimpan alamat e-mail pribadi, kartu kredit atau nomor ponsel orang yang tak dikenal.

7. Pasangan Anda secara praktis "Kawin dengan Internet". Si Dia menghabiskan sebaguan besar waktunya dengan duduk di depan komputer. Ia juga sering minta tidur sendiri atau mengubah waktu istirahatnya. Akibatnya, ia juga mengalami gangguan mata akibat berjam-jam menatap layar komputer. Ia juga biasanya mengeluhkan sakit pinggang leher atau dada.

8. Anda melihat perubahan perilaku pasangan Anda. Pasangan Anda bukan hanya tidak menyukai dirinya sendiri. Dia sulit mengendalikan emosi dan tidur nyenyak. Mood dan hasratnya berubah.  Terkadang kondisi ini juga membuat Anda mengira apakah ada yang salah dengan kondisi mental pasangan Anda. Parasaan “sex pervert” atau kesalahan  menempatkan seks akan menyebabkan dia bertindak  kasar dan emosional untuk membela kelakuannya menikmati pornografi.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Lepas dari Jerat Pornografi Internet

 "Saya baru sadar kalau saya tak bahagia dalam pekerjaan dan hubungan dengan orang lain. Saya menggunakan pornografi sebagai pelarian."

Sambil memejamkan sepasang matanya yang mulai lelah, Jason McClain mematikan komputernya. Di tengah kegelapan malam, karyawan di bagian IT itu lalu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Di hari itu Jason sebenarnya bekerja mulai pagi hingga siang. Tetapi ia terpaku selama berjam-jam di depan monitor hingga malam hari hanya untuk melihat situs-situs porno di internet.

Sejak masih sekolah, Jason sudah kecanduan dengan gambar-gambar telanjang. Jason memang tidak sendiri, banyak pria lain yang menjadi korban pornografi internet. Sekitar enam persen dari populasi masyarakat di Inggris dilaporkan mengalami masalah dengan salah satu bentuk kecanduan seks ini.

Kegemaran menatap gambar atau film seronok di internet lama kelamaan membawa pengaruh buruk bagi Jason. Hasratnya yang begitu kuat untuk menikmati gambar dan tayangan porno membuat hubungan sosialnya terus memburuk. Beruntung, Jason kini sudah sembuh dan kembali hidup normal. Ia mampu melepaskan diri dari jeratan pornografi internet berkat kedisipilinannya dalam menjalankan program pemulihan yang ketat.

Jason bahkan sekarang menjadi seorang konselor terlatih yang membantu kesembuhan para pecandu pornografi. Diakuinya, dalam beberapa tahun ini terjadi peningkatan tajam jumlah pria yang mentalnya rusak akibat tekanan pornografi. Di antara para kliennya sekarang, Jason menemukan ada beberapa kebiasaan dalam mengakses pornografi :

- Pria mengorbankan hari liburnya untuk menurutkan hasrat mengakses pornografi.
- Pria mengorbankan hibungan sosial dengan teman atau keluarga hanya untuk menikmati pornografi
- Pria terobesi dengan seseorang dan pertemuannya dengan mereka dilihat sebagai potensi menciptakan fantasi seksual atau pornografi.

“Saya ingat ketika masih remaja pornografi selalu memiliki daya tarik magis. Ketika saya mulai bekerja di IT tujuh tahun lalu, daya tarik itu kembali menguat karena semuanya dapat diakses melalui internet. Jika saya punya waktu luang di akhir pekan dan kebetulan tak ada jadwal, semua berubah menjadi sesi pornografi. Saya bisa menghabiskan dua tau tiga jam saat itu, menatap pesona di layar komputer.

"Waktu akan menguap begitu saja dan saya heran akan apa yang saya lakukan. Setelah itu seperti ada sesuatu yang hilang, dan mencoba mengatasinya dengan kembali mengakses beberapa situs seperti halnya candu. Ini seperti lingkaran putus asa dan banyak pria yang mampu bertahan hingga jam 3 atau 4 pagi untuk memuaskan kebiasaannya,” paparnya.

Dampak buruk
Selain membuat kecanduan, pornografi memang dapat menimbulkan dampak buruk, sebagaimana terungkap dari survey terhadap para therapist yang dilakukan BBC Radio One. Sebanyak 74 persen therapist mengatakan bahwa penggunaan pornografi internet secara berlebihan menjadi penyebab umum memburuknya hubungan.

Bagi Jason sendiri, statistik tersebut tidaklah mengherankan. Menurutnya, banyak wanita yang mengetahui pasangannya kecanduan pornografi menjadi sangat terpukul. "Ada kemarahan besar serta keraguan yang mungkin ia tak pernah bayangkan sama sekali. Hubungan saya pun berantakan, dan pornografi jelas memainkan peran akan kegagalan itu,” ujarnya.

Jason mengaku khawatir tren kecanduan pornografi akan terus berlangsung sehingga banyak pria makin terjebak dalam fantasi.

“Saya menyebutnya 'kacamata porno', namun istilah yang tepatnya mungkin ‘obyektifikasi’. Ini terjadi ketika pria mulai menyerap pesan porno yang dikirimkan. Mereka mengobyektifikasi seseorang melintasi garis. Ini bukan berarti menunjuk seorang wanita di bar dan berpikir bahwa ia menarik. Setiap orang dievaluasi sebagai sebuah obyek. Bila Anda di supermarket, orang yang Anda lihat dinilai penuh secara seksual. Ketika Anda mencapai tahap infatuasi atau tergila-gila, ada sesuatu yang tidak benar. Suatu hubungan juga menjadi dalam tekanan karena seseorang mulai mengobyektifikasi pasangannya," ujarnya.

Butuh kemauan besar
Fakta lain pun menunjukkan bahwa 70 persen aktivitas surfing pornografi dilakukan selama jam-jam kerja. Pada 2004, sebuah survey di Inggris mengungkapkan tujuh dari 10 perusahaan memecat karyawan yang mengakses pornografi di tempat kerja. “Di banyak tempat kerja, pornografi adalah masalah serius. Ini menunjukkan betapa sebagian orang nekat untuk melihatnya. Mereka rela mempertaruhkan pekerjaannya untuk sensasi sekejap,” ujar Jason

Bagi Jason, menghentikan kebiasaan buruknya membutuhkan kemauan besar serta ketetapan hati yang kuat. Namun bagian terpenting dari penyembuhan ini adalah menentukan apa yang menjadi penyebab utama problem kecanduan ini.

“Saya punya latar belakang psikologi dan ketika saya menganalisa apa yang terjadi, saya baru sadar kalau saya tak bahagia dalam pekerjaan dan hubungan dengan orang lain. Saya menggunakan pornografi sebagai pelarian. Gambar-gambar ini mengalihkan saya dari dunia nyata, dan membuat saya mengelak dari persoalan dalam hidup saya. Untuk kebanyakan pria, itu menggantikan sosialisasi, merenggut hubungan serta merusaknya," terangnya.

Jason juga punya nasehat penting buat para pria yang merasa dirinya kecanduan dengan pornografi. Pertama, cobalah untuk mendiskusikan masalah ini dengan orang yang mengerti Anda. Kedua, buatlah jadwal yang padat dalam aktivitas keseharian Anda dan ketiga hubungi konselor terlatih untuk menentukan dan mencari tahu kenapa kecanduan ini telah membelit Anda.

“Pastikan Anda termotivasi untuk mengatasi kecanduan ini karena jika tidak, tak ada jalan buat Anda untuk berhasil. Saya menyadari, alam bawah sadar saya merencanakan membuat setiap malam dan akhir pekan dalam kondisi bebas sehingga saya bisa online. Oleh sebab itu, pergilah keluar rumah lakukan sesuatu dan taati waktu tidur yang ketat. "Menahan kebiasaan Anda adalah sebuah ide buruk. Anda butuh bantuan teman dekat untuk berdiskusi. Dengan bebasnya layanan internet dan kemudahan pornografi, tak heran jika pria menjadi tertarik Mendengar nasihat dari profesional tentu sangat ideal sebab dapat menentukan apa yang menjadi penyebab kecanduan. Ketika apa yang terjadi pada Anda terungkap, hal itu akan memberi anda perspektif baru,” tandas Jason.

sumber: Kompas.

NEW VOUCHER
POLLING
Lulus sekolah bakal ngelanjutin kemana?
Kuliah
Kursus
Buka Usaha
Bantu Orang tua Dagang
Nganggur dulu
SHARE NETWORK